MAKALAH ILMIAH SEDERHANA
DAMPAK PSIKOLOGIS ANAK KORBAN PERCERAIAN
Tugas
disusun sebagai Syarat Mengikuti Ujian Semester
Dibuat oleh:
Widya Sulistya
Ningrum
1811.1001.3510.023
UNIVERSITAS
17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA
FAKULTAS
PSIKOLOGI
SAMARINDA
KALIMANTAN TIMUR
2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa yang
telah memberkati saya
sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Saya juga
ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan karya tulis
ini dan berbagai sumber yang telah saya
pakai sebagai data dan fakta pada karya tulis ini.
Saya
mengakui bahwa saya
adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal, oleh karena itu tidak ada hal
yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan karya tulis
ini yang telah saya
selesaikan. Tidak semua hal dapat saya
deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Saya melakukannya semaksimal
mungkin dengan kemampuan yang saya
miliki.
Saya sangat
berharap agar karya tulis ini memberi banyak manfaat bagi para pembaca.
.
Samarinda, 15
Desember 2018
Widya Sulistya
Ningrum
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL.....................................................................................i
KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR
ISI...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang...............................................................................1
B. Rumusan
Masalah.........................................................................2
C. Tujuan
Penulisan...........................................................................2
D. Manfaat
Penulisan.........................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Perceraian..........................................................................5
BAB III PEMBAHASAN
A.
Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian..............................................8
B.
Dampak Perceraian Terhadap Anak...................................................10
C. Upaya Mengatasi Masalah Pada Anak
Akibat Perceraian...................14
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.....................................................................................34
B. Saran..............................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................37
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya, setiap pasangan yang menikah menginginkan
terciptanya sebuah keluarga yang penuh ketentraman, kebahagiaan dan kasih
sayang. Hubungan harmonis antara suami,
istri dan anak merupakan salah satu
tujuan yang paling didambakan oleh sebuah keluarga. Namun pada
kenyataanya, mewujudkan keluarga harmonis bukan perkara yang mudah seperti
mebalikkan telapak tangan. Berbagai perselisihan dan masalah yang timbul antara
suami istri dapat memicu pertengkaran yang berujung perceraian. Pada akhirnya,
tidak dapat terelakkan anak juga ikut menanggung akibatnya.
Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak
yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari
keluarga. Salah satunya adalah belajar menghormati orang yang lebih tua serta
membantu menyelesaikan berbagai masalah yang timbul. Orangtua diharapkan dapat
membantu anak dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk mengatasi masalah
secara realistik dan simpati. Oleh karena itu, keluarga sebagai tempat untuk mengkondisikan pemberian
nilai positif pada anak. Namun disisi lain, keluarga sering kali menjadi sumber
konflik bagi sejumlah orang . suasana keluarga yang tidak harmonis sering
mendorong terjadinya konflik antara kedua orang tua.
Salah satu hal yang menjadi ketakutan bear bagi seorang
anak adalah perceraian orangtua. Ketika perceraian terjadi, anak akan menjadi
korban utama. Orangtua yang bercerai harus tetap memikirkan bagaimana membantu
anak untuk mengatasi penderitaan akibat perpisahan orangtua.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa saja faktor-faktor penyebab perceraian?
2. Bagaimanakah dampak perceraian terhadap anak?
3. Bagaimana upaya mengatasi masalah pada anak akibat
perceraian?
C.
Tujuan
1. Mengetahui berbagai faktor penyebab perceraian.
2. Mengetahui dampak perceraian terhadap anak.
3. Memahami perasaan dan keinginan anak atas masalah
perceraian orang tuanya.
4. Mengetahui upaya mengatasi masalah pada anak akibat
perceraian orang tuanya.
D.Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian penulis yaitu
membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh anak (anak-anak maupun
remaja) berkaitan dengan emosinya yang masih sangat labil.
BAB II
A. Definisi Perceraian
Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah
satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka
berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri.
Bagi anak-anak yang belum mengerti maksud dari
“perceraian” mereka mungkin sering bertanya-tanya kenapa kedua orangtua mereka
tidak pernah bersama-sama lagi. Mereka hanya menuruti apa yang diucapkan oleh
orangtuanya. Bagi seorang remaja yang dalam keadaan emosinya masih sangat
labil, mereka menganggap hal tersebut adalah kehancuran dalam hidupnya, hidup
akan jauh berbeda paska perceraian, merasa segalanya menjadi kacau, dan merasa
kehilangan. Bagi anak yang telah dewasa, mereka akan lebih mudah diajak
berkomunikasi, lebih bisa memahami situasi dan kondisi, lebih bisa menjaga
dirinya sendiri, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan bisa
menasehati kedua orangtuanya sesuai apa yang ia rasakan.
Intinya pada berapapun usia dari anak-anak yang mengalami
perpecahan dalam keluarganya, disatu sisi “kehilangan” adalah masalah pertama
yang mereka jumpa. Di sisi lain mereka menunjukkan kesulitan dalam menyesuaikan
diri seperti kesedihan, kesepian, kesendirian, keterpurukan, kerinduan,
ketakutan, kekhawatiran,dan depress. Itu semua adalah hanya bagian dari rasa kekecewaan
terhadap orangtuanya. Yang akan menjadi trauma apabila mereka menyaksikan
perkelahian orangtuanya yang begitu dasyat, mereka hanya bisa menangis,
mengurung diri di kamar, atau pergi melarikan diri dari rumah untuk menenangkan
diri mereka. Mereka yang bercerai bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.
Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta
mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau
kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak
mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan
pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan.
1. Pandangan
Anak terhadap Perceraian Orang Tua.
Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan
keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi
setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan
kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu yang
mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya lagi.
Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat
perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta
penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena
perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal
bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan
mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa
dirundingkan dan disepakati bersama.
Banyak pertanyaan dari orangtua mengenai pada usia
berapakah perpisahan dan perceraian orangtua memiliki dampak buruk yang minim
bagi anak? Benarkah justru di usia balita paling baik, karena anak belum banyak
terpapar pada kehidupan orangtuanya?. Jawabannya secara umum adalah tidak ada
usia terbaik. Namun demikian, sesungguhnya dampak perceraian pada anak-anak
bervariasi sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan psikologis mereka.
Orangtua perlu memahami dampak dan kebutuhan yang berbeda dari anak-anak mereka
2. Pandangan
Anak terhadap Perceraian Orang Tua.
Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan
keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi
setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan
perasaan kehilangan yang mendalam. Contohnya, anak harus memendam rasa rindu
yang mendalam terhadap ayah/ibunya yang tiba-tiba tidak tinggal bersamanya
lagi.
Dalam sosiologi, terdapat teori pertukaran yang melihat
perkawinan sebagai suatu proses pertukaran antara hak dan kewajiban serta
penghargaan dan kehilangan yang terjadi diantara sepasang suami istri. Karena
perkawinan merupakan proses integrasi dua individu yang hidup dan tinggal
bersama, sementara latar belakang sosial-budaya, keinginan serta kebutuhan
mereka berbeda, maka proses pertukaran dalam perkawinan ini harus senantiasa
dirundingkan dan disepakati bersama.
Banyak pertanyaan dari orangtua mengenai pada usia
berapakah perpisahan dan perceraian orangtua memiliki dampak buruk yang minim
bagi anak? Benarkah justru di usia balita paling baik, karena anak belum banyak
terpapar pada kehidupan orangtuanya?. Jawabannya secara umum adalah tidak ada
usia terbaik. Namun demikian, sesungguhnya dampak perceraian pada anak-anak bervariasi
sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan psikologis mereka. Orangtua perlu
memahami dampak dan kebutuhan yang berbeda dari anak-anak mereka
BAB III
A.
Faktor Penyebab Terjadinya Perceraian
Terdapat
banyak penyebab perceraian yang telah tampak dari kasus-kasus yang sering
terjadi di Indonesia, diantaranya adalah :
a) Kurangnya berkomunikasi
Dalam rumah tangga, komunikasi sangat penting dan sangat
dibutuhkan antara suami-istri. Sekecil apapun itu masalah harus memberitahu
satu sama lain. Jika tidak, akan memicu terjadinya perceraian. karena dengan
berkomunikasi membuat rasa saling percaya, saling mengerti, tidak ada
kebohongan, dan tidak ada hal yang disembunyikan.
b) Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
KDRT adalah kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga
baik oleh suami maupun oleh istri yang berakibat timbulnya penderitaan fisik,
seksual, psikis,dan ekonomi. Hal
tersebut menjadi salah satu penyebab utama perceraian.
c) Perzinahan
Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan
terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungnan seksual diluar nikah
yang dilakukan baik oleh suami maupun istri. hal ini bisa terjadi dalam rumah
tangga dikarenakan mungkin seperti yang kita bahas sebelumnya yaitu kurangnya
atau gagal berkomunikasi, ketidak harmonisan, tidak adanya perhatian atau
kepedulian suami terhadap istri atau sebaliknya, saling sibuk dengan
pekerjaannya masing-masing, merasa tidak tercukupinya kebahagiaan lahir dan
batin, ketidaksetiaan, atau hanya untuk bersenang-senang bersama orang lain.
d) Masalah ekonomi
Uang memang tidak dapat membeli kebahagiaan. Namun
bagaimana lagi, uang termasuk kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Oleh karena itu, faktor ekonomi masih menjadi penyebab paling dominan
terjadinya perceraian pasutri di masyarakat.
e) Krisis moral dan akhlak
Faktor-faktor
terjadinya perceraian di atas seperti halnya masalah ekonomi,
perzinahan, kurangnya atau gagal berkomunikasi, dan kekerasan dalam rumah
tangga dapat menimbulkan landasan berupa krisis moral dan akhlak yang dilalaikan
oleh suami mapun istri atas peran dan tanggung jawab.
B.
Dampak Perceraian
a) Dampak perceraian terhadap Anak
Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang
bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori
anak adalah:
1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar.
Anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali
karena:
a) Mempunyai kemarahan, kefrustrasian dan mau
melampiaskannya.
b) Selain itu, anak korban perceraian jadi gampang marah karena
mereka terlalu sering melihat orang tua bertengkar. Namun kemarahan juga bisa
muncul karena :
-
Dia harus hidup dalam
ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan.
-
Dia harus kehilangan
hidup yang tenteram, yang hangat, dia jadi marah pada orang tuanya kok
memberikan hidup yang seperti ini kepada mereka.
-
Waktu orang tua
bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan mama, itu berarti ada yang terhilang
dalam diri anak yakni figur otoritas, figur ayah.
2. Anak-anak yang bawaannya sedih, mengurung diri, dan
menjadi depresi. Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.
Oleh karena
itu tidak jarang mereka berbohong dengan mengatakan bahwa orangtua mereka tidak
bercerai atau bahkan menghindari pertanyaan-pertanyaan tentang perceraian orang
tua mereka. Banyak sekali dampak negatif perceraian yang bisa muncul pada anak.
“Marah pada diri sendiri, marah pada lingkungan, jadi pembangkang, enggak
sabaran, impulsif,”. Bisa jadi, anak akan merasa bersalah (guilty feeling) dan
menganggap dirinyalah biang keladi atau penyebab perceraian orangtuanya. Dampak
lain adalah anak jadi apatis, menarik diri, atau sebaliknya, mungkin kelihatan
tidak terpengaruh oleh perceraian orangtuanya. “Orangtua harus harus hati-hati
melihat, apakah ini memang reaksi yang wajar, karena dia sudah secara matang
bisa menerima hal itu, atau hanya pura-pura.” Anak juga bisa jadi tidak pe-de
dan takut menjalin kedekatan (intimacy) dengan lawan jenis. “Ke depannya,
setelah dewasa, anak cenderung enggak berani untuk commit pada suatu hubungan.
Pacaran-putus, pacaran-putus.” Self esteem anak juga bisa
turun. “Jika self esteem-nya jadi sangat rendah dan rasa bersalahnya sangat
besar, anak bisa jadi akan dendam pada orangtuanya, terlibat drugs dan alkohol,
dan yang ekstrem, muncul pikiran untuk bunuh diri. Apalagi jika anak sudah
besar dan punya keinginan untuk menyelamatkan perkawinan orangtuanya, tapi
tidak berhasil. Ia akan merasa sangat menyesal, merasakan bahwa omongannya tak
digubris, merasa diabaikan, dan merasa bukan bagian penting dari kehidupan
orangtuanya.” Perasaan marah dan kecewa pada orangtua merupakan sesuatu yang
wajar, “Ini adalah proses dari apa yang
sesungguhnya ada di hati anak. Jadi, biarkan anak marah, daripada memendam
kemarahan dan kemudian mengekspresikannya ke tempat yang salah.”
b) Dampak Perceraian Bagi Remaja
Bagi kebanyakan remaja, perceraian orangtua membuat
mereka kaget sekaligus terganggu. Masalah yang ditimbulkan bagi fisik tidak
terlalu tampak bahkan bisa dikatakan tidak ada karena ini sifatnya fisikis,
namun ada juga berpengaruh pada fisik setelah si remaja tersebut mengalami
beberapa akibat dari tidak terkendalinya sikis atau keperibadiannya yang tidak
terjaga dengan baik, salah satu contoh si remaja karena seringkali
meminum-minuman beralkohol maka lambat laun si remaja akan mengalami penurunan
system kekebalan tubuh yang akhirnya menimbulkan sakit.
Keadaan tersebut jelas akan mempengaruhi psikologi remaja
untuk keberlangsungan kehidupannya, ada beberapa kebutuhan utama remaja yang
penting untuk dipenuhi yaitu:
1. Kebutuhan akan adanya kasih sayang;
2. Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok;
3. Kebutuhan untuk berdiri sendiri;
4. Kebutuhan untuk
berprestasi;
5. Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain;
6. Kebutuhan untuk dihargai;
7. Kebutuhan untuk memperoleh palsafah hidup yang utuh.
Kehidupan
mereka sendiri berkisar pada berbagai masalah khas remaja yang sangat nyata,
seperti bagaimana menyesuaikan diri dengan teman sebaya, apa yang harus
dilakukan dengan seks atau narkoba, ataupun isu-isu kecil tetapi sangat
penting, seperti jerawat, baju yang akan dikenakan, atau guru yang tidak
disenangi. Remaja sudah merasa cukup sulit mengendalikan kehidupan mereka
sendiri sehingga pasti tidak ingin diganggu dengan kehidupan orangtua yang
mengungkapkan perceraian. Mereka tidak memiliki ruang atau waktu lagi terhadap
gangguan perceraian orangtua dalam kehidupan mereka.
Selain itu, remaja secara psikologis sudah berbeda dari
sebelumnya. Meskipun masih bergantung pada orangtua, saat ini mereka memiliki
suara batin kuat yang memberitahu mereka untuk menjadi mandiri dan mulai
membuat kehidupan mereka sendiri. Tetap bergantung tidak sesuai lagi untuk rasa
aman dan kesejahteraan diri mereka.
c) Dampak Positif Perceraian Bagi Anak
Perceraian ternyata juga membawa dampak positif bagi anak
adalah :
1. Anak korban perceraian memiliki orientasi yang baik bagi
masa depannya
Anak
akan berfikir bahwa kegagalan orangtuanya dapat dijadikan pelajaran agar ia
tidak seperti orangtuanya yang memilih jalan perceraian, dan ini juga akan
menjadi bekal mereka untuk menuju masa depan yang lebih baik. Anak tersebut
merasa bahwa walaupun orang tua mereka telah bercerai, namun ia tidak boleh
patah semangat ataupun terpuruk kehidupannya. Hal ini ditunjukkan dengan
baiknya prestasi akademik dan non akademik di sekolah. Sehingga, tidak semua
anak korban perceraian mengalami disorientasi masa depan. Hal ini bergantung
kepada persepsi anak tentang perceraian orang tuanya.
2. Pengalaman traumatik dapat menjadikan anak menjadi
tangguh, berkepribadian matang ataupun sebaliknya.
Sebanyak
75 % anak korban perceraian mampu bangkit dan berprestasi. Menurut Bonnie
Benard, anak yang resilien memiliki karakteristik tersendiri yaitu kompetensi
sosial, kemampuan memecahkan masalah, otonomi dan juga keinginan akan tujuan
dan masa depan. Anak menjadi kuat dan tabah dalam menerima, hal ini berkaitan
dengan hardiness personality. Anak yang mampu mengontrol emosinya akan
membentuk tindakan yang mengubah kejadian yang penuh stres menjadi sesuatu yang
bermanfaat bagi dirinya. Anak dengan penyesuaian diri yang baik pasca
perceraian orangtua akan menemukan makna yang positif dari perceraian
orangtuanya sehingga dapat menciptakan masa depan yang lebih cemerlang.
3. Anak korban perceraian mendapatkan pengalaman yang
memberdayakan.
Orangtua
yang berasal dari keluarga yang relijius sering dipaksa menikah terlalu muda
dan ternyata mereka menikah dengan orang yang salah sehingga timbullah kasus
perceraian. Hal tersebut membuat anak korban perceraian berpikir bahwa itu
merupakan pengalaman yang memberdayakan.
Jadi kesimpulannya adalah perceraian orang tua ternyata
membawa dampak yang baik bagi anak. Hal itu bergantung kepada orang tuanya,
lingkungan, dan komunitasnya. Anak mempunyai persepsi yang baik terhadap
perceraian, karena anak mendapat perhatian, perlindungan dan cinta kasih yang
cukup dari orangtuanya. Faktor dari lingkungan yang mampu memberi penjelasan,
perhatian, dan harapan yang timbul dari anak-anak korban perceraian
Komunitasnya juga turut membantu memberikan nasihat sehingga menjadikan
individu yang optimis selalu memandang kegagalan sebagai sesuatu yang dapat
diperbaiki dan diubah. Sebaliknya, individu yang pesimis menerima kegagalan
sebagai kesalahannya sendiri, menganggap kesulitan hidup berasal dari pembawaan
yang telah mendarah daging dan tidak dapat diubah. Individu yang optimis akan
merasa lebih percaya diri, nyaman, ekspresif, memandang dunia sosial lebih
positif, merasa orang lain dapat dipercaya dan tidak merasa takut akan ditinggalkan
oleh orang lain. Semakin baik persepsi seseorang terhadap perceraian, semakin
baik pula optimisme masa depan seseorang.
C. Perasaan - Perasaan Ketika Orang Tuanya Bercerai
Hal ini terlihat antara
lain :
a)
Tidak aman (insecurity)
Para remjaja setelah
ditinggalkan cerai oleh orang tuanya kebanyakan dari mereka merasa kurang aman,
salah satunya untuk biaya kehidupannya bukan masalah perlindungan, karena pada
masa remaja biasanya merkeka tidak bigitu membutuhkan orang tua, dan ini biasanya
terjadi pada remaja yang bebas dari awal sebelum perceraian ia tidak
begitu menuruti apa kata orang tuannya.
b)
Sedih
Remaja yang awalnya merasa nyaman dengan
orang tua tentu akan merasa sedih jika orang tua mereka berpisah atau bercerai
dan mungkin si remaja tersebut akan merasa kehilangan, beda dengan si remaja
yang awalnya tidak begitu mengharapkan kehadiran dari orang tua karena banyak
jaman sekarang anak sudah tidak lagi menghargai kehadiran orang tua, dan itu
bisa di sebabkan oleh pergaulan yang terlalu bebas.
C. Marah
Dengan adanya perceraian seorang anak
seringkali emosinya tidak terkontrol dengan baik sehingga mereka sering kali
marah yang tidak karuan, banyak teman dekat yang menjadi sasaran amarahnya
padahal sebenarnya bukan pada temannya yang bermasalah.
D. Kehilangan
Dominan pada
remaja setelah terjadi perceraian itu akan merasa kehilangan baik besar atau
kecil perasaan yang ditimbulkan oleh si remja tersebut
E. Merasa bersalah dan menyalahkan diri
Remaja sering
murung dan mereka sering berfikir yang mendalam sehingga mereka banyak diam,
jarang berkomunikasi dengan orang lain, tidak nyaman berada dengan orang lain,
ini terjadi terutama pada anak yang berperilaku baik, si remaja akan berfikir
dan merenungkan orang tuanya bercerai itu apakah gara-gara dirinya atau faktor
lain, dan ini sering menjadi pertanyaan besar yang terjadi pada diri mereka.
F. Timbul rasa malu terhadap teman-temannya,
Pasti ia
akan berpikir bahwa teman-temannya akan membicarakan hal itu di sekolah maupun
diluar sekolah atau jadi sering untuk menyendiri. Sehingga mengganggu
konsentrasi belajar anak. Prestasi anak di sekolah akan menurun baik dalam
bidang akademik maupun non-akademik
D. Perilaku Anak Sebagai Korban Perceraian
Tidak hanya menjadi
kurang pergaulan, anak korban perceraian akan mengalami penurunan nilai
akademik, penurunan prestasi baik di sekolah maupun di luar sekolah, berusaha
namun dalam kegelisahan, kesepian, ketidakpercayaan diri, dan kesedihan yang
berlarut-larut.
Seorang anak yang
sebelum menjadi korban perceraian lebih nyaman dan tentram jika berada di
rumah, apalagi dikelilingi oleh keluarga yang lengkap. Namun, semua kenyamanan
itu tidak didapat lagi setelah sering terjadinya cek-cok antara
orangtua,menjelang dan paska perceraian. Sebuah rumah yang seharuskan dijadikan
sebagai tempat belajar, beradaptasi,
sosialisasi, serta bermain tidaklah efektif lagi jika bagaikan kapal yang
hancur dihantam angin badai yang begitu dasyat di tengah lautan. Apalagi untuk
belajar, untuk bermain saja sangatlah tidak menyenangkan. Hanya akan menambah
duka.
Mereka akan merasa lebih
nyaman bermain diluar rumah, nongkrong bersama teman-temannya, menghabiskan
waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfa’at, bahkan pada anak remaja yang
emosinya terbilang sangat labil jika tidak lagi diperhatikan maka akan nekad
bertindak menyimpang seperti : berkelahi, merokok, minum-minuman keras,
mengkonsumsi obat-obatan terlarang, serta mulai mencoba-coba seks bebas.
Tidak semua anak korban
percerain terjerumus dalam pergaulan bebas. Sebenarnya ada anak-anak yang tetap
mendekatkan diri kepada ALLAH SWT, sadar akan resiko jika bertindakmenyimpang,
sabar, tegar, berusaha tuk selalu kuat, semangat, tidak putus asa untuk tetap
mencapai masa depan yang cerah, walaupun pada kenyataannya keluarga mereka
terpecah belah dan terkadang walaupun
status orangtuanya sudah bercerai tetapi
masih tetap saja bertengkar,saling benci dan menyalahkan. Mereka bisa melakukan
hal itu karna mereka tidak memendam rasa benci dan tetap menyayangi
orangtuanya. Anak-anak seperti itulah
yang patut dicontoh dan dijadikan sebagai teladan dalam masyarakat.
Perilaku yang ditimbulkan akibat hal tersebut yaitu :
1.
Suka mengamuk, menjadi
kasar dan tindakan agresif;
2.
Menjadi pendiam, tidak
lagi ceria dan tidak suka bergaul;
3.
Sulit berkonsentrasi dan
tidak berminat pada tugas sekolah sehingga prestasi disekolah cenderung menurun;
4.
Suka melamun terutama
mengkhayalkan orang tuanya akan bersatu lagi.
E. Perkembangan Psikologis Anak Korban Perceraian.
a) Arti Keluarga Bagi Anak
Bagi anak
keluarga sangatlah penting. Keluarga sebagai tempat untuk berlindung,
memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting untuk perkembangan
anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara psikologi maupun secara fisik.
Tanpa keluarga anak akan merasa sendiri, tidak ada tempat untuk berlindung.
b) Kondisi Psikologis Anak Akibat Perceraian
Masa ketika
perceraian terjadi merupakan masa yang kritis buat anak, terutama menyangkut
hubungan dengan orangtua yang tidak tinggal bersama. Berbagai perasaan
berkecamuk di dalam bathin anak-anak. Pada masa ini anak juga harus mulai
beradaptasi dengan perubahan hidupnya yang baru. Hal-hal yang biasanya
dirasakan oleh anak ketika orangtuanya bercerai adalah:
-
Merasa tidak aman
(insecurity).
-
Tidak diinginkan atau
ditolak oleh orang tuannya yang pergi.
-
Marah Sedih dan
kesepian.
-
Kehilangan, merasa
sendiri, menyalahkan diri sendiri sendiri sebagai penyebab orangtua bercerai.
Perasaan-perasaan
ini dapat menyebabkan anak tersebut, setelah dewasa menjadi takut gagal dan
takut menjalin hubungan dekat dengan orang lain. Beberapa indikator bahwa anak
telah beradaptasi adalah: Menyadari dan mengerti bahwa orang tuannya sudah
tidak lagi bersama dan tidak lagi berfantasi akan persatuan kedua orang tua,
Dapat menerima rasa kehilangan, Tidak marah pada orang tua dan tidak
menyalahkan diri sendiri, menjadi dirinya sendiri.
F. Perceraian tentu disebabkan oleh orang tua itu sendiri
sebaiknya orang tua bisa mengkomunikasikan pada anak dan juga memberikan sebuah
penjelasan kenapa mereka bisa bercerai, berikut ada beberap poin yang bisa
dikomunikasikan orang tua kepada anak :
a. Komunikasikan bahwa perceraian adalah berat bagi setiap
anggota keluarga termasuk orang tua. Perceraian terjadi di banyak keluarga
sehinnga beri motivasi anak agar tidak malu menghadapi pergaulan di lingkungan
sosialnya.
b. Orang tua bercerai sama sekali bukan karena alasan anak.
Karena anak merasa sangat terpukul sekali apabila merasa karena merekalah orang
tua bercerai. Katakan kepada mereka fakta tentang penyebab perceraian dengan
kata-kata yang tidak vulgar dan menjelekan salah satu orang tua.
c. Yakinkan bahwa mereka masih memiliki orang tua yang masih
menyayangi. Walaupun diantara mereka tidak lagi tinggal serumah dengannya.
d.
Katakan maaf kepada
mereka apabila anda mudah marah, sangat kritis dan cepat naik darah. Katakan
bahwa anda juga mencoba mengatasi peristiwa perceraian dengan mengontrol diri
lebih baik.
e. Berusaha mengenali teman-teman dekat tempat mereka biasa mengadu dan bercerita. Karena umumnya
remaja lebih percaya perkataan temannya ketimbang orangtua yang dianggap
bermasalah.
Namun perlu
diingat sebaik apapun upaya untuk menangani perceraian dan berbagai hal yang
sudah dilakukaan, pengaruh terhadap perceraian akan selalu membekas pada diri
seorang anak dan akan mempengaruhi keperibadian menjelang dewasa. Bahkan ketika
pertengkaran hebat dan permasalahan orang tua sudah selesai dengan baik.
G. Cara Membangkitkan Motivasi dan Harapan Anak Korban
Perceraian.
Bagi anak-anak mempunyai
keluarga yang utuh adalah hal yang sangat membahagiakan. Mereka tidak pernah
membayangkan bahwa akan ada perceraian dalam keluarganya. Keadaan psikologi
anak akan sangat terguncang karena adanya perceraian dalam keluarga.
Mereka akan sangat
terpukul, kehilangan harapan, cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang
terjadi pada keluarganya. Sangat sulit menemukan cara agar anak-anak merasa
terbantu dalam menghadapi masa-masa sulit karena perceraian orangtuanya.
Sekalipun ayah atau ibu berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa,
segala yang baik tersebut tetap tidak dapat menghilangkan kegundahan hati
anak-anaknya. Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting
yang dapat diberikan oleh orangtua yang bercerai adalah mencoba menenteramkan
hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa
mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian
orangtuanya. Hal lain yang perlu dilakukan oleh orangtua yang akan bercerai
adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan
kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak -anak untuk memihak salah
satu pihak yang sedang cekcok serta jangan sekali-sekali melibatkan mereka
dalam proses perceraian tersebut. Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah
mencarikan orang dewasa lain seperti bibi atau paman, yang untuk sementara
dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya.
Maksudnya, supaya anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka
dalam mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika
belum ada perceraian.
H. Peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Psikologi Anak
Perceraian selalu
berdampak buruk dan terasa amat pahit bagi anak-anak. Dan ini jelas menorehkan
perasaan sedih serta takut pada diri anak. Alhasil, ia tumbuh dengan jiwa tidak
sehat. Berikut ini beberapa saran untuk mengatasi kesedihan anak dalam melewati
proses perceraian orang tuanya:
Dukung anak Anda untuk
mengungkapkan perasaan mereka, baik yang positif maupun negatif, mengenai apa
yang sudah terjadi. Sangatlah penting bagi orang tua yang akan bercerai ataupun
yang sudah bercerai untuk memberi dukungan kepada anak-anak mereka serta
mendukung mereka untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Dalam hal ini Anda tidak boleh melibatkan perasaan Anda. Seringkali terjadi,
perasaan akan kehilangan salah satu orang tua akibat perceraian menyebabkan
anak-anak menyalahkan salah satu dari kedua orang tuanya (atau kedua-duanya)
dan mereka merasa dikhianati. Jadi, anda harus betul-betul siap untuk menjawab
setiap pertanyaan yang akan diajukan anak anda atau keprihatinan yang mereka
miliki.
Beri kesempatan pada
anak untuk membicarakan mengenai perceraian dan bagaimana perceraian tersebut
berpengaruh pada dirinya. Anak-anak yang usianya lebih besar, tanpa terduga,
bisa mengajukan pertanyaan dan keprihatinan yang berbeda, yang tidak pernah terpikirkan
sebelumnya olehnya. Meski mengejutkan dan terasa menyudutkan, tetaplah bersikap
terbuka.
Bila Anda merasa tidak
sanggup membantu anak, minta orang lain melakukannya. Misalnya, sanak keluarga
yang dekat dengan si anak adalah wajar bagi anak-anak bila memiliki berbagai
macam emosi dan reaksi terhadap perceraian orang tuanya. Bisa saja mereka
merasa bersalah dan menduga-duga, merekalah penyebab dari perceraian. Anak-anak
marah dan merasa ketakutan. Mereka khawatir akan ditelantarkan oleh orang tua
yang bercerai.
Ada anak-anak yang
sanggup untuk menyuarakan perasaan mereka, hal ini tergantung dari usia dan
perkembangan mereka. Sementara, sebagian lagi tidak dapat berkata-kata. Ada
yang marah dan depresi. Untuk anak-anak usia sekolah, jelas sekali perceraian
mengakibatkan turunnya nilai pelajaran mereka di sekolah. Walaupun untuk
beberapa lama anak-anak akan berusaha mati-matian menghadapi perceraian orang
tuanya, pengaruh nyata dari perceraian biasanya dirasakan anak berusia 2 tahun
ke atas.
Jangan menjelek-jelekan
mantan pasangan di depan anak walaupun Anda masih marah atau bermusuhan dengan
bekas suami. Hal ini merupakan salah satu yang sulit untuk dilakukan tapi Anda
harus berusaha keras untuk mencobanya. Jika hal itu terus saja Anda lakukan,
anak akan merasa, ayah atau ibunya jahat, pengkhianat, atau pembohong. Nah,
pada anak tertentu, hal itu akan menyebabkan ia jadi dendam dan trauma untuk
menikah karena takut diperlakukan serupa.
Anak-anak tidak perlu
merasa mereka harus bertindak sebagai "penyambung lidah" bagi kedua
orang tuanya. Misalnya, Anda berujar, "Bilang, tuh, sama ayahmu, kamu
sudah harus bayaran uang sekolah." minta dukungan dari sanak keluarga dan
teman-teman dekat. Orang tua tunggal memerlukan dukungan. Dukungan dari
keluarga, sahabat, pemuka agama, dapat membantu Anda dan anak untuk
menyesuaikan diri dengan perpisahan dan perceraian. Hal lain yang juga dapat
menolong adalah memberi kesempatan kepada anak-anak untuk bertemu dengan orang
lain yang telah berhasil melewati masa-masa perceraian dengan baik.
Bilamana mungkin, dukung
anak-anak agar memiliki pandangan yang positif terhadap kedua orang tuanya.
Walaupun pada situasi yang baik, perpisahan dan perceraian dapat sangat
menyakitkan dan mengecewakan bagi kebanyakan anak-anak. Dan tentu saja secara
emosional juga sulit bagi para orang tua.
I. Persiapan Orang Tua dalam Kaitannya dengan Kondisi
Psikologis Anak Sebelum Memutuskan untuk Bercerai.
Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam beradaptasi
terhadap perubahan hidupnya ditentukan oleh daya tahan dalam dirinya sendiri,
pandangannya terhadap perceraian, cara orangtua menghadapi perceraian, pola
asuh dari si orangtua tunggal dan terjalinnya hubungan baik dengan kedua
orangtuanya. Bagi orangtua yang bercerai, mungkin sulit untuk melakukan intervensi
pada daya tahan anak karena hal tersebut tergantung pada pribadi masing-masing
anak, tetapi sebagai orangtua mereka dapat membantu anak untuk membuatnya
memiliki pandangan yang tidak buruk tentang perceraian yang terjadi dan tetap
punya hubungan baik dengan kedua orangtuanya. Di bawah ini adalah beberapa
saran yang sebaiknya dilakukan orangtua agar anak sukses beradaptasi, jika
perpisahan atau perceraian terpaksa dilakukan:
- Begitu perceraian sudah menjadi rencana orangtua,
segeralah memberi tahu anak bahwa akan terjadi perubahan dalam hidupnya, bahwa
nanti anak tidak lagi tinggal bersama Mama dan Papa, tapi hanya dengan salah
satunya.
Sebelum berpisah ajaklah anak untuk melihat tempat
tinggal yang baru (jika harus pindah rumah). Kalau anak akan tinggal bersama
kakek dan nenek, maka kunjungan ke kakek dan nenek mulai dipersering. Kalau
ayah/ibu keluar dari rumah dan tinggal sendiri, anak juga bisa mulai diajak
untuk melihat calon rumah baru ayah/ibunya.
Di luar
perubahan yang terjadi karena perceraian, usahakan agar sisi-sisi lain dan
kegiatan rutin sehari-hari si anak tidak berubah. Misalnya: tetap mengantar
anak ke sekolah atau mengajak pergi jalan-jalan.
- Jelaskan kepada anak tentang perceraian tersebut. Jangan
menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelaskan dengan
menggunakan bahasa sederhana. Penjelasan ini mungkin perlu diulang ketika anak
bertambah besar.
- Jelaskan kepada anak bahwa perceraian yang terjadi bukan
salah si anak.
Anak
perlu selalu diyakinkan bahwa sekalipun orangtua bercerai tapi mereka tetap
mencintai anak. Ini sangat penting dilakukan terutama dari orangtua yang pergi,
dengan cara: berkunjung, menelpon, mengirim surat atau kartu. Buatlah si anak
tahu bahwa dirinya selalu diingat dan ada di hati orangtuanya.
Orangtua
yang pergi, meyakinkan anak kalau ia menyetujui anak tinggal dengan orangtua,
dan menyemangati anak agar menyukai tinggal bersama orangtuanya itu.
Orangtua
yang tinggal bersama anak, memperbolehkan anak bertemu dengan orangtua yang
pergi, meyakinkan anak bahwa dia menyetujui pertemuan tersebut dan menyemangati
anak untuk menyukai pertemuan tersebut.
- Kedua orangtua, merancang rencana pertemuan yang rutin,
pasti, terprediksi dan konsisten antara anak dan orangtua yang pergi. Kalau
anak sudah mulai beradaptasi dengan perceraian, jadwal pertemuan bisa dibuat
dengan fleksibel. Penting buat anak untuk tetap bisa bertemu dengan kedua
orangtuanya. Tetap bertemu dengan kedua orangtua membuat anak percaya bahwa ia
dikasihi dan inginkan. Kebanyakan anak yang membawa hingga dewasa
perasaan-perasaan ditolak dan tidak berharga adalah akibat kehilangan kontak
dengan orangtua yang pergi.
- Tidak saling mengkritik atau menjelekkan salah satu pihak
orangtua di depan anak.
- Tidak menempatkan anak di tengah-tengah konflik.
- Tidak menjadikan anak sebagai senjata untuk menekan pihak
lain demi membela dan mempertahankan diri sendiri. Misalnya mengancam pihak
yang pergi untuk tidak boleh lagi bertemu dengan anak kalau tidak memberikan
tunjangan; atau tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan anak supaya pihak yang
pergi merasa sakit hati, sebagai usaha membalas dendam.
- Tetap mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan
perselisihan. Memperkenankan anak untuk mengekspresikan emosinya. Beresponlah
terhadap emosi anak dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan atau celaan.
Karena itu dalam mempersiapkan perceraian, ada beberapa hal yang harus
dipersiapkan terutama tentang psikologi anak. Satu diantaranya adalah
menjelaskan alasan dari perceraian itu sendiri. Intinya, anak ingin sesuatu
yang pasti. Kalau perceraian memang tidak bisa dihindari, orang tua harus
menjelaskan kepada anak. Kumpulkan antara anak, ayah, dan ibu.
- Orang tua di sini harus menjelaskan keputusan mereka,
Kalau orang tua menghadapi anak balita, jelaskan dengan bahasa yang harus bisa
dimengerti oleh mereka. Jelaskan juga bahwasanya meski bercerai, kasih sayang
kedua orang tua tidak akan putus. Kedua belah pihak juga menjelaskan tentang
materi yang akan tetap diberikan kepada anak.
- Jangan juga memberi harapan palsu kepada anak. Harapan
palsu di sini maksudnya adalah berjanji bahwasanya kedua orang tua mungkin
suatu saat akan kembali hidup bersama. Jika janji ini sampai diucapkan, anak
akan terus mengingatnya. Masalah perceraian yang sedang dihadapi oleh orang tua
tentunya juga akan membuat anak terus memikirkan kondisi yang sedang menimpa
kedua orang tuanya. Jangankan anak yang masih usia kecil, mereka yang sudah
usia besar pun ada juga yang akan mencetuskan pemikiran bahwasanya perceraian
itu adalah karena kesalahan mereka. Orang tua harus menerangkan kepada anak
bahwasanya ini bukan kesalahan mereka. Ini untuk menghindari perasaan terpukul
dari anak.
- Agar anak tidak terus menerus merasa bersalah, tetap
berikan perhatian yang tidak berubah dari kedua belah pihak orang tua. Intinya
biar bagaimanapun, dalam kasus perceraian, orang tua harus ingat bagaimana
perasaan dan kepentingan anak. Jadi sebelum kata cerai, pikirkan dahulu apa
yang lebih baik dan buruk apa yang akan terjadi.
- Orang tua juga harus tetap menguasai emosi, perasaan,
maupun pikiran. Meski telah berpisah bukan berarti anak hanya boleh memilih
satu orang tua dan mencurahkan serta menerima kasih sayang dari satu orang tua
juga. Bagaimanapun anak butuh ayah dan ibu. Jangan putuskan hubungan anak dengan
orang tua yang satunya.
- Di sini, butuh pula kepekaan orang tua untuk mengerti apa
yang dibutuhkan anak akan perasaannya. Orang tua yang memiliki hak asuh anak
boleh memberitahukan tentang pasangannya namun bukan berarti
menjelek-jelekkannya. Kalau kita memburuk-burukkan mantan pasangan kita, anak
jadi ada dalam posisi dituntut untuk memilih, biarkan mereka melihat dan tahu
sendiri sehingga bisa mengambil keputusan sendiri.
BAB IV
A.
Simpulan
Keluarga sangatlah penting bagi perkembangan anak pada masa-masa
yang mendatang, baik secara psikologis maupun secara fisik. Selain itu keluarga
juga sebagai tempat untuk berlindung, dan memperoleh kasih sayang. Namun,
bagaimana jika peran keluarga sebagai pelindung, dan tempat memperoleh kasih
sayang itu tidak berfungsi dengan sebagaimana mestinya? Tanpa keluarga anak
akan merasa sendiri, dan tidak ada tempat untuk berlindung. Kemana mereka harus
pergi jika tempat perlindungan saja mereka tidak punya? Apa mereka harus
mencari perlindungan dijalan? Tidak! Anak adalah generasi penerus yang
seharusnya di jaga dengan baik, oleh karena itu orang tua harus menjaga
anak-anak mereka sebagaimana mestinya peran orangtua. Dan perceraian bukanlah
jalan untuk menyelesaikan masalah. Perceraian adalah penerus masalah selanjutnya.
Orangtua harus memilih antara ego mereka masing-masing atau masa depan anak
mereka.
Perceraian merupakan terputusnya keluarga karena salah
satu atau kedua pasangan memutuskan untuk saling meninggalkan sehingga mereka
berhenti melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Faktor Penyebab Terjadinya
Perceraian diantaranya adalah kurangnya berkomunikasi, kekerasan dalam rumah
tangga (KDRT), perzinahan, masalah ekonomi, krisis moral dan akhlak.
Sedangkan dampak perceraian bagi anak ada yang positif
dan ada yang negatif. Dampak positifnya, anak tersebut bisa menjadikan hal
tersebut sebagai pelajaran di masa depannya, anak korban perceraian memiliki
orientasi yang baik bagi masa depannya, selain itu pengalaman traumatik dapat
menjadikan anak menjadi tangguh, berkepribadian matang ataupun sebaliknya, anak
korban perceraian mendapatkan pengalaman yang memberdayakan. Sedangkan dampak
negatifnya adalah sedih, marah, kehilangan, merasa tidak aman, timbul rasa
malu, merasa bersalah dan menyalahkan diri. Adapun upaya mengatasi masalah pada
anak korban perceraian :
a.
Komunikasikan bahwa
perceraian adalah berat bagi setiap anggota keluarga termasuk orang tua.
Perceraian terjadi di banyak keluarga sehinnga beri motivasi anak agar tidak
malu menghadapi pergaulan di lingkungan sosialnya.
b.
Orang tua bercerai sama
sekali bukan karena alasan anak. Karena anak merasa sangat terpukul sekali
apabila merasa karena merekalah orang tua bercerai. Katakan kepada mereka fakta
tentang penyebab perceraian dengan kata-kata yang tidak vulgar dan menjelekan
salah satu orang tua
c.
Yakinkan bahwa mereka
masih memiliki orang tua yang masih menyayangi. Walaupun diantara mereka tidak
lagi tinggal serumah dengannya.
d.
Katakan maaf kepada
mereka apabila anda mudah marah, sangat kritis dan cepat naik darah. Katakan
bahwa anda juga mencoba mengatasi peristiwa perceraian dengan mengontrol diri
lebih baik.
e.
Berusaha mengenali
teman-teman dekat tempat mereka biasa
mengadu dan bercerita. Karena umumnya remaja lebih percaya perkataan temannya
ketimbang orangtua yang dianggap bermasalah.
B. Saran
Solusi dari kasus perceraian yang berpengaruh besar
terhadap psikologi anak, seharusnya pihak orang tua dapat mempertimbangkan
kembali untuk mengambil keputusan untuk melakukan perceraian, mereka harus
memilih antara mengikuti ego mereka untuk bercerai atau menjaga psikologi anak
yang akan ditimbulkan akibat perceraian tersebut, apabila perceraian memang
jalan yang seharusnya diambil, maka diperlukan peran orang tua yang harus bisa
menyikapi atau mengambil alih serta mengawasi anak, agar terhindar dari segala
kegiatan yang bisa merusak masa depan anak, dan perbanyaklah kegiatan yang
positif agar dapat mengembangkan potensi anak dan berikan pengarahan ketika
anak dewasa, jangan sampai perceraian itu terjadi di kehidupannya kelak, dan
berikan pengalaman.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.dishidros.go.id/buletin/umum/221-dampak-perceraian-bagi-perkembangan-psikologis-anak.html